Beda tipis ya Moms, menyayangi dengan memanjakan ?. Tapi saya rasa itu hanya anggapan sementara kita saja sebelum kita benar2 mencerna makna sejati menyayangi dan mengetahui perbedaannya dengan yang dimaksud "memanjakan". Pasti sebagian kita baik yg sudah jadi orang tua atau yang belum, agak alergi dengan kata "manja" karena kecenderungannya kok tidak positif dan identik dengan tidak mandiri atau tidak dewasa, dengan kata lain yaitu kekanak2an.
Memang manja itu lebih banyak didapati pada anak2 ya Moms ? meski kalau dibiarkan berlarut2 bisa juga terbawa sampai usia dewasa. Dulu, pertanyaan saya yang mungkin juga pertanyaan Moms lainnya adalah, apakah manja itu tidak boleh sama sekali dilakukan anak2? lalu kategori manja atau dimanjakan itu yang seperti apa ya ?, bukankah orangtua yang memanjakan anaknya adalah karena alasan kasih sayang yang beeesaaarr?.
Karena saya sudah punya sepasang anak, sebenarnya kurang lebih pada akhirnya saya bisa menjawab sendiri pertanyaan2 itu tapi .... saya kurang pasti apakah jawaban saya itu benar atau kurang benar atau bahkan malah salah. Sampai di suatu kebetulan saat saya ingin menulis buku kecil tentang dua perbedaan antara kasih sayang & memanjakan - saya menemukan referensi bagus dengan tema yang sama persis dan saya yakini bisa menjadi acuan untuk bahan koreksi gaya pengasuhan selama ini yang nantinya akan saya tuang dalam buku kecil saya (maklum buah hati saya sudah berusia 11 & 9 tahun, jadi yang bisa saya lakukan hanyalah koreksi masa lalu, hehhehee).
Kuncinya, memilih buku itu tidak bisa ngasal ya Moms. Kalo perlu kita pakai doa dan niat yang baik supaya ketemunya juga buku yang baik dan bermanfaat dunia akhirat inshaAllah (lebay sedikit tak mengapa toh demi baik) * nyengir.
Kan sayang kalau belinya mahal, bahasanya asing pula tapi isinya nggak ngena sama kebutuhan kita, walhasil buku yang sudah kita beli cuma jadi pajangan bertahun2. Walau bagi saya lebih baik majang buku daripada majang foto diri saya sendiri hahahahaa.
Kan sayang kalau belinya mahal, bahasanya asing pula tapi isinya nggak ngena sama kebutuhan kita, walhasil buku yang sudah kita beli cuma jadi pajangan bertahun2. Walau bagi saya lebih baik majang buku daripada majang foto diri saya sendiri hahahahaa.
Singkatnya, nanti tips memilih buku akan saya bagi di posting lain waktu inshaAllah.
Berhubung saya tinggal di Kuala Lumpur jadi saya beli buku "Loving Without Spoiling" itu ya di toko buku sekitar sini waktu kebetulan ada sale besar (tapi buku ini nggak ikut disale).
Kontennya kurang lebih saya ringkas aja sementara sbb ya, nanti selepas selesai baca seluruhnya saya akan coba tambah point2 penting dari buku itu, ini dia :
- Menyiasati segala situasi emosional anak sehari-hari
- Memberi ruang gerak yang sekaligus mencetak kemandirian pada anak
- Bagaimana menunjukkan bentuk kasih sayang yang benar
- Membangun komunikasi aktif terbuka dan dua arah setiap hari
- Mendisiplinkan dengan cara yang positif
- Menjaga kekompakan antar kakak adik
- Melatih ketrampilan bersosialisasi sejak dini
- Membuat anak merasa percaya bahwa dirinya spesial
- Menjadi orangtua yang tidak kaku
Kadang kita merasa sebagai orangtua sudah cukup bersikap benar dan tidak memanjakan anak, tapi bisa jadi ada satu dua point yang ternyata kita kurang tepat menyikapi sehingga anak terbentuk menjadi kurang tangguh dalam beberapa hal tertentu. Baru kita sadar setelah kita dihadapkan pada fakta yang berbeda pada kondisi anak orang lain lalu bertanya2 dalam hati "Loh kok anak temanku seumur itu sudah bisa disuruh belanja ke supermaket ya?". Nah lho...di bagian mana kita kurang membuka mata ya selama ini dengan kemampuan anak kita sendiri ?.
Tenang dulu aja Moms, sebelum anak beranjak dewasa kita masih bisa berusaha "memelintir" hal2 yang belum dibiasakan menjadi sebuah kebiasaan baru yang inshaAllah menyenangkan kalau ditelateni dengan sabar.
Tenang dulu aja Moms, sebelum anak beranjak dewasa kita masih bisa berusaha "memelintir" hal2 yang belum dibiasakan menjadi sebuah kebiasaan baru yang inshaAllah menyenangkan kalau ditelateni dengan sabar.
Kesimpulannya, belajar itu selalu perlu supaya kita tidak kalah dengan jaman dalam mengasuh anak-anak. Hindari sikap acuh dan merasa tidak butuh ilmu terlebih urusan parenting secara tidak ada universitas dengan fakultas parenting di muka bumi. Buku yang kita baca mungkin sebagian adalah teori yang bisa kita coba terapkan, tapi sebagian lagi juga mungkin adalah hasil pengamatan atau bahkan pengalaman pribadi penulis selama bertahun-tahun.